Selasa, 24 Desember 2013

Kamis, 19 September 2013

Peta Wisata Kab. Karanganyar

Peta Wisata



Bagi yang sedang mencari-cari tempat wisata untuk liburan keluarga, atau bagi yang masih bingung lokasi wisata di Karanganyar khususnya di Tawangmangu. Berikut adalah map atau peta wisata di Kabupaten Karanganyar.
Peta Wisata Kab. Karanganyar
 Dan jangan lupa jika liburan di Karanganyar, untuk menginapnya di Hotel PONDOOK ASRI Tawangmangu.


Selasa, 17 September 2013

Pendakian GUNUNG LAWU ( bag 3 )



Pilih Jalur Sesuai Kemampuan

            Bagi sebagian orang, mendaki Gunung Lawu bukanlah hal baru sehingga tidak butuh persiapan khusus. Namun, bagi oranbg awam, pengalaman berpetualang di Gunung Lawu harus mempunyai persiapan yang matang. Hal pertama yang ditentukan tak lain adalah rute/jalur pendakian yang akan dilewati.
            Gunung Lawu memiliki tiga jalur pendakian resmi yang biasa dilewati para pendaki, yakni Cemoro Kandang di Tawangmangu, Karanganyar; Cemoro Sewu di Magetan Jawa Timur dan Cetho di Jenawi, Karanganyar. Ketiganya merupakan jalur resmi sehingga saat masuk kawasan tersebut pendaki dikenai retribusi senilai Rp 5.000 per orang. Selain ketiga jalur tersebut, terdapat beberapa jalur tidak resmi seperti jalur Jogorogo di Ngrambe, Ngawi.

            Masing-masing jalur memiliki karakteristik tersendiri, para pendaki bisa menyesuaikan dengan minat dan kekuatan pendaki sendiri. Jalur Cemoro Kandang memiliki karakteristik medan yang cukup landai, cocok untuk pendaki pemula. Dengan waktu tempuh sekitar delapan jam yang melewati lima pos, pendaki bisa mencapai puncak Lawu, Hargo Dumilah.
            Jalur Cemoro Sewu merupakan jalur dengan waktu tempuh tercepat yakni kurang dari lima jam untuk pendaki biasa. Jalur ini didominasi oleh tangga dari susunan batu dengan kemiringan yang cukup terjal. Pendaki bisa menikmati vegetasi pohon cemara dan pinus hingga pos II dan semerbak bau asap belerang yang mengiringi perjalanan.
            Jalur Cetho yang berada di samping Candi Cetho merupakan jalur dengan medan terberat dan waktu tempuh yang lebih lama, yakni sekitar 12 jam perjalanan. Namun, pemandangan dengan vegetasi yang berbeda di setiap pos akan mengobati rasa lelah pendakian.
            Pihak terkait mengatakan dalam setahun rata-rata terdapat 7.000 samapi 10.000 pendaki yang mendaki Gunung Lawu yang tersebar di beberapa jalur pendakian. Mayoritas pendaki paling banyak pada bulan Juli-September, malam satu Sura dan malam tahun baru Masehi.

Senin, 16 September 2013

Pendakian GUNUNG LAWU ( bag 2)



Mengagumi Keindahan Edelweis dan Jalak Lawu

            Ada banyak hal menarik yang bisa dilihat di sepanjang perjalanan pendakian Gunung Lawu. Salah satunya tanaman khas gunung seperti bunga edelweis (Anaphalis Javanica). Sayangnya keberadaan bunga edelweis di Gunung Lawu kini semakin menyusut. Tak seperti tanaman lain, edelweis yang dijuluki bunga abadi ini memang menjadi incaran parapendaki hanya untuk dijadikan koleksi. Keberadaan bunga edelweis di Gunung Lawu ditengarai terdapat lima jenis yakni berwarna putih, coklat, kuning, ungu, dan merah muda. Dari berbagai jenis tersebut, jenis putih dan coklat mendominasi vegetasi edelweis yang berada di sisi barat, utara, timur dan selatan.



            Penyusutan vegetasi edelweis terlihat kentara di sekitar jalur pendakian. Umumnya, pendaki memetik edelweis di lokasi dekat jalur pendakian. Dari ketiga jalur resmi pendakian Gunung Lawu, yakni Cemoro Sewu (Magetan), Cemoro Kandang dan Cetho, vegetasi edelweis di jalur Cetho dinilai masih lengkap. Sebab, jalur Cetho menjadi  jalur yang jarang dilalui pendaki lantaran medan yang cukup sulit.
             
Selain itu banyak pedagang yang menjarah bunga tersebut lantaran mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Penjualan bunga tersebut telah merambah di pasar-pasar sekitar Tawangmangu. Bahkan, beberapa situs di internet telah menawarkan bunga edelweis yang telah dikeringkan dengan harga tertentu. Pihak terkait cukup merasa kesulitan untuk menindak pendaki yang nekat mengambil bunga edelweis. Biasanya, para pendaki mengambil bunga tersebut pada saat turun dari pendakian.
           
 Gunung Lawu juga mempunyai satwa endemis yaitu Jalak Lawu. Jalak Lawu atau lebih di kenal dengan Jalak gading inipun keberadaannya semakin jarang  di temui pendaki. Dulu, burung berbulu hitam ini sering bergerombol di dahan pohon, namun kini pendaki lebih sering menemukan burung tersebut terbang sendiri. Jalak Lawu menjadi fauna endemis Gunug Lawu yang ditemukan sejak 100-an tahun silam, kini populasinya semakin menyusut.

Sabtu, 14 September 2013

Pendakian GUNUNG LAWU

Tak Sekedar untuk Berwisata


Salah satu aktivitas rekreasi  atau olahraga yang bisa menjadi pilihan adalah mendaki gunung. Mayoritas orang mendaki gunung demi memuaskan hobi, melatih fisik, mental maupun sekedar iseng-iseng. Namun tak jarang pula kegiatan itu dijadikan sebagai ritual atau wisata ziarah. Demikian pula halnya dengan pendaki Gunung Lawu. Tak jarang pada momen tertentu sejumlah orang sengaja mendaki gunung berketinggian 3.265 meter dari permukaan laut (mdpl) ini untuk berziarah maupun melakukan ritual.
            Gunung Lawu biasanya banyak didatangi para pendaki atau peziarah pada momen-momen tertentu seperti malam satu Sura, mereka datang untuk melakukan ritual. Uniknya, saat mendaki Lawu, para peziarah tersebut hanya membawa perbekalan seadanya tanpa peralatan khusus seperti pendaki pada umumnya. Bahkan sebagian dari mereka hanya membawa air mineral tanpa mengenakan jaket tebal seperti pendaki lain.
            Kawasan Gunung Lawu memiliki beberapa lokasi yang kerap disinggahi peziarah yang sekedar berziarah maupun melakukan ritual lain. Lokasi tersebut, yakni Hargo Dalem, Sendang Inten, Sumur Jolotundo, Sendang Macan, Sendang Drajat, Telaga Kuning, Sendang Panguripan, dan Pasar Dieng. Lokasi tersebut berada di sekitar puncak Lawu yang dikenal dengan sebutan Hargo Dumilah. Umumnya, mereka melakukan ritual seperti berdiam diri, semedi, mandi maupun aktivitas lainnya. Dengan melakukan ritual tertentu, hal itu dianggap mampu mendatangkan keberuntungan tersendiri. Dan, rata-rata dari peziarah mandi di Sendang Drajat dengan berbagai harapan dan tujuan lainnya.
            Tak jarang, pada lokasi tersebut sering ditemukan sisa-sisa sesaji seperti dupa maupun bunga. Bahkan di salah satu kawasan dari jalur pendakian Candi Cetho yang kerap disebut Pasar Dieng menjadi lokasi khusus bagi pendaki yang ingin melakukan ritual. Di lokasi yang jalurnya relatif datar tersebut, terdapat sejumlah batu gunung ukuran sedang disusun bertumpuk. Didekat tumpukan batu tersebut biasanya terdapat sisa-sisa dupa maupun bunga mawar.
                  Meski demikian, Gunung Lawu menjadi objek yang menarik minat ribuan pendaki dari berbagai wilayah yang ingin menikmati panorama pemandangan yang disuguhkan.
           

Rabu, 11 September 2013

Hall Baru

Meeting Room Baru


Untuk menambah fasilitas ruang meeting yang kurang, sudah hampir 4 bulan ini Hotel Pondok Asri Tawangmangu telah mengoperasikan Ruang Meeting yang baru. Ruang meeting baru ini bisa menampung sekitar 300 orang. Untuk data lengkap sebagai berikut :
  1. Luas                      : 18m X 12m
  2. Ukuran Backdrop  : 7,5m X 3m
  3. Ukuran Stage         : 7,2m X 2,4m
  4. Ukuran Screen       : 3m X 3m ( 120" )
  5. Fasilitas Penunjang :
      • Sound System
      • LCD + Screen
      • Table set
      • Podium
      • Ruang tunggu/transit
      • Ruang coffebreak
  6. Kapasitas               : 
      • Teather      : 200 - 300 orang
      • Class         : 150 - 200 orang
      • U-Shape    : 100 - 150 orang
Berikut gambar - gambarnya. - di klik untuk memperbesar gambar -















 Silahkan hubungi marketing kami di :
Telp : 0271-7558060
Email : marketing@pondokasri.com